S I K A P C A R E F O R C E
PADA FENOMENA VIDEO PORNO BUATAN PELAJAR SUMATERA BARAT
Hasil Diskusi Mingguan Weekly Hot Talk, Jum’at 15 Feb, 2008
Video porno? Maraknya pembuatan VIDEO PORNO buatan beberapa pelajar di Sumatera Barat membuktikan sebuah kegagalan yang menyeluruh dari sistem pendidikan yang ada (dimulai dari keluarga, sekolah, lingkungan, media, hingga pada kebijakan pemerintah).
Remaja yang terlibat sebenarnya korban dari kegagalan keseluruhan sistem tersebut. Untuk itu, mereka perlu ditangani secara ‘ramah’, dengan tidak mengabaikan hak-hak tumbuh kembangnya sebagai remaja.
Mengeluarkan remaja dari sekolah bukanlah sebuah tindakan yang bijak. Sekolah mestinya melakukan tindakan yang lebih signifikan ke dalam, karena fenomena ini biasanya berulang setiap tahun. Artinya, pihak sekolah tidak belajar dari kesalahan yang sama. Sekolah hendaknya memikirkan program khusus dan melihat akar persoalan yang lebih mendasar.
Fenomena ini juga merupakan bukti bahwa pola pendidikan yang digariskan oleh pemerintah lewat dinas pendidikan belum dapat menyentuh pada level sikap. Para siswa cenderung disibukkan untuk mengisi pengetahuan kognitif tanpa pemahaman akan cara hidup dan bersiap untuk menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab. Sebagian remaja menjadi anti sosial karena disibukkan oleh PR dan tugas. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk menimba kecerdasan sosial lewat pergaulan dan pertemanan, dimana mereka dapat belajar bagaimana mengatasi konflik secara fair dan positif. Sebagian siswa lagi merasa perlu membuat sensasi agar eksistensi mereka diakui, dan tidak jarang, cara yang ditempuh salah.
CARE FORCE merasa ada yang perlu diluruskan pada teman-teman yang terlibat sebagai pembuat ataupun yang menyebarkan video porno ini. Mereka seharusnya tidak dikucilkan atau dianggap sebagai anak muda yang ‘gagal’ karena jika ingin dibahasakan ‘gagal’, kita sebagai teman sebenarnya juga gagal dalam tanggung jawab sosial untuk mengajak mereka pada pergaulan positif dan melakukan kontrol sosial.
CARE FORCE merasa perlu ada sebuah program bimbingan khusus yang ramah remaja terhadap teman-teman pelaku (baik si pembuat maupun yang menyebarkan) tanpa melupakan materi penting seperti pengetahuan dan keterampilan akan konsep diri serta kesehatan reproduksi. Faktanya, para pelaku tidak memiliki konsep diri yang kuat untuk menolak ajakan dan godaan. Ini diperparah lagi dengan minimnya pengetahuan kesehatan reproduksi di kalangan teman-teman remaja sehingga mereka lolos dari pertimbangan kesehatan yang sebenarnya membantu sekali dalam mengambil keputusan.
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar









yang harus di pikirkan adalah……
Remaja apa yang kau cari …….?
jika jawabannya sudah didapat, pasti akan mudah mencari penyelesaiannya.
yah itu memang benar, tapi apakah semua remaja yang kau cari tak punya penyelesaian gimana?????
klo menurut ibnu,.itu kembali ke personalnya gmn!!!!klo mo nyalahin orang,yaaa semua salah…..
klo mo cari solusinya yang kembali aja ke dasar masalah yang paling foundamental yaitu masalah akhlak dan pedidikan agama yang kurang,itu aja simplekan yulisa ha3,jarang ol non padahal i nu tunggin lho