Di sebuah kota di dalam Samudra, hiduplah sebuah keluarga ikan paus. Mereka sangat rukun dan selalu bersama. Ada lima anggota keluarga, diantaranya Bapak Paus, Ibu Paus, anak mereka pertama bernama Prita, anak tengah bernama Renzo dan yang paling bungsu bernama Dino. Dino baru berumur dua tahun. Mereka selalu bersama kemana pun. Setiap minggunya, mereka selalu pergi bersama-sama untuk mencari makan. Banyak sekali masalah yang mereka temui, terlebih pada Dino. Setiap mencari makan, Dino selalu hilang. Dino sangat senang bermain, apabila ia melihat tempat baru, maka Dino akan langsung pergi ke sana tanpa izin dari orang tuanya. Hal itulah yang membuat Dino selalu tersesat dan kehilangan keluarganya. Meski demikian ia selalu dapat ditemukan.
Kini musim gugur hampir usai, musim dingin menjelang datang. Itu artinya Dino dan keluarganya harus mencari tempat baru untuk tinggal mereka. Mereka harus mencari makan dan pergi ke tempat yang lebih hangat. Sebelum pergi, mereka berdiskusi terlebih dahulu.
“Kita akan kemana di musim dingin ini?” tanya Ibu Paus.
“Kita akan pergi ke Negeri Paus yang ada di seberang sana. Di sana cuacanya lebih hangat dan banyak makanan,” ujar Bapak Paus.
Mereka semua setuju. Tapi, sebelum pergi, Ibu Paus berkata kepada Dino.
“Dino, kalau kita pergi nanti, pastikan kau ada di dekat kami. Jangan pergi kemana-mana, ok,” kata Ibu Paus.
“Iya, Bu,” jawab Dino tanpa menghiraukan tatapan Ibunya.
Pagi datang. Saatnya keluarga Dino menjelajahi samudra. Dino malas sekali untuk bangun. Ia sedang asyik dengan mimpinya. Dino bermimpi sedang bermain di sebuah ladang rumput laut raksasa. Di tengah asyik bermimpi, ia dibangunkan. Saatnya untuk berkemas pergi. Saat keluarganya sibuk bersiap, Dino malah asyik bermain di depan rumahnya.
“Dino, waktunya berangkat. Jangan main terus, nanti kami kehilangan kamu lagi,” panggil kakak sulungnya, Prita.
“Iya, iya,” gerutu Dino.
Akhirnya mereka berangkat. Di dalam perjalanan, Dino selalu ketinggalan keluarganya. Ia selalu tergiur dengan tempat yang baru dilihatnya. Ini membuat keluarganya cemas, sekaligus kesal. Tapi, meski sudah diberi peringatan, semua ucapan keluarganya hanya masuk telingan kanan keluar di telinga kiri. Dino tak pernah jera.
Suatu kali, setelah dua hari berenang nyaris tanpa henti, Dino berkata ingin bermain.
“Tidak, lebih baik kamu disini saja, nanti kamu hilang lagi. Lagipula banyak sekali Hiu di sekitar sini, nanti kamu bisa jadi santapan lezat mereka,” kata Bapaknya.
Dino hendak membantah, tapi belum sempat ia bersuara Ibu langsung memperingatinya.
“Betul apa yang dikatakan Bapakmu, Dino. Di sini sangat berbahaya, kau masih kecil. Kalau kamu sudah dewasa, kami tak akan melarangmu lagi,” kata Ibu dengan lembut.
Dino hanya bisa diam. Dengan terpaksa ia membantu Bapaknya berkemas. Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Musim dingin hampir datang, tapi mereka belum juga menemukan tempat yang bagus. Di tengah perjalanan, Dino melihat kebun rumput laut yang sangat indah. Ini sama seperti dalam mimpi Dino. Dino sangat tergoda, sehingga ia pergi ke arah berlawanan. Tanpa sadar berenang ke arah rumput laut dan meninggalkan keluarganya. Dino sangat tergoda melihat rumput laut yang bergoyang kesana-kemari. Keluarga Dino sudah semakin jauh, namun Dino tetap saja bermain-main. Semakin lama Dino semakin jauh ke pedalaman. Tanpa sadar ia memasuki sebuah tempat yang sangat gelap, di mana tak ada satu hewan pun di sana, kecuali rumput laut raksasa. Dino baru sadar kalau ia sudah kehilangan arah juga keluarganya. Ia takut sekali. Ini membuatnya panik. Saking paniknya ia jadi berenang tak tentu arah hingga tersangkut di rumput-rumput aneh yang membentuk jaring raksasa.
Dino menyangka kalau ia tersangkut di jaring manusia. Ini membuatnya sangat takut akan dijadikan santapan lezat. Dino menangis.
“Ibu…. Ibu….., tolong aku,” teriak Dino ketakutan.
“Maafkan aku, Bu. Aku gak akan bandel lagi. Aku akan nurut kata-kata Ibu,” katanya sambil tersedu.
Saat itu keluarga Dino sudah menyadari, bahwa salah satu anggota keluarganya ada yang hilang. Ibunya sangat cemas dan berbalik mencari anak bungsunya itu. Tapi, meski sudah berjam-jam ia Dino, tapi belum juga ketemu. Tak lama setlah jauh berjalan ia melihat hamparan rumput yang snagat indah. Ibu Dino mendapat firasat bahwa ke sanalah anaknya pergi. Tanpa ragu ia pun menyusuri hamparan rumput itu. Di suatu tempat ia mendengar rintihan Dino. Segera Ibu Dino mencari asal suaranya. Tak berapa lama ia pun melihat Dino yang tersangkut di rumput laut raksasa. Sang Ibu langsung menuju ke sana dan melepaskan anaknya.
Dino menangis dan langsung memeluk Ibunya.
“Maafkan aku, Bu. Aku gak akan nakal lagi. Aku janji, Bu,” kata Dino tersedu-sedu.
“Iya, kali ini Ibu maafkan. Tapi lain kali jangan ulangi lagi yah, Nak,” kata Ibunya sambil tersenyum.
Mereka kembali ke tempat Ayah dan kedua kakaknya menunggu. Ayah Dino langsung menasehati. Kali ini, Dino mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya.
Perjalanan kembali dimulai. Dino tak mau lagi berpisah dari ibunya. Ia tak mau lagi berpisah dari keluarga yang ia sayangi.
Tak berapa lama kemudian keluarga tersebut menemukan tempat yang bagus untuk tinggal. Air lautnya hangat dan banyak makanan tersedia. Dino sangat senang, karena ia mempunyai banyak teman disana. Mereka akan tinggal di sana sampai musim dingin datang.n
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar









ceritanya kurang banyak
jangan nakal ya dino.
Sayangi tuh mama daN Keluargamu.
Cepat sadar dan ubah diri menjadi lebih baik.