Gips dan Sepasang Bayang
Yulisa Farma
Telah terbit di koran Singgalang Minggu
Hari ini hujan lagi, aku selalu menunggu di beranda rumah dengan harap. Aku berharap hujan akan segera reda dan aku akan keluar dengan senyuman. Tapi dengan kaki yang digips hingga tumit, membuatku tak bisa kemana-mana. Ibu menyuruhku tetap di rumah, memandangi halaman kosong, sangat membosankan! Selalu berada di rumah ini membuatku muak. Tak ada yang bisa kunikmati di sini. Rumah ini hanya petak kecil yang terbuat dari lobrik yang hanya dicat dengan kapur putih. Di dalam sini hanya berlantai semen yang ditutupi karpet usang berwarna merah pudar. Di sudut ruangan terdapat sofa lusuh berwarna hijau lumut. Banyak sekali lubang di kursi itu dan akan menjadi rumah yang nyaman bagi para tikus. di sudut tengah ruangan terdapat tv kecil 14 inci yang terdapat di atas meja reyot, mungkin itu terlalu bagus. Kakiku terasa perih dan seperti diremas kuat-kuat dan dibiarkan hancur berkeping-keping. Kupegangi kaki yang sudah tak berguna ini. Ternyata masih saja hujan terus berdatangan tanpa undangan. Sekarang aku memandangi langit-langit rumah yang hanya digantungi lampu neon. Aku masih belum bisa terima akan tinggal di gubuk ini. Dimulai kebangkrutan Ayah yang dituduh korupsi dan ia melarikan diri meninggalkan kami berdua. Aku frustasi dan mempersingkat jalan pikiranku. Mungkin hanya Ibu yang bisa menerima keadaan ini. Dan mungkin ia terpaksa untuk menerimanya.
“Apa obat itu sudah kau minum, Asti?” Ibu memandangku dengan raut sedih dan sekarang pipinya hanya menyisakan tulang.
“Aku sudah meminumnya, Bu. Sekarang tinggalkan aku sendiri,” Mungkin ini sangat kasar, tapi memang benar aku ingin sendiri.Ibu beranjak pergi ke dapur, mungkin itu bukan dapur karena hanya dibatasi papan tipis sebagai sekat dan ruangannya tetap sama. Beberapa bulan yang lalu, aku tak tinggal di sini. Dulu kami bertiga, sekarang hanya berdua. Ayah minggat dan kami berdiri di sini tanpanya. Korupsi yang dituduhkan ke Ayah telah mengubah jalur nasib kami. Hal ini membuatku lebih stres dan mencoba untuk bunuh diri. Hal ini membuatku gagal dan menyiksa diri sendiri. Aksi bunuh diri itu membuat kakiku pergi untuk selamanya.
Ketika itu aku sengaja berdiri di tengah jalan hanya untuk menabrakkan diri dan aku ingin mati. Bukannya mati, malah membuat hidupku semakin tersiksa. Kakiku patah dan takkan bisa berjalan lagi.Sebagian kecil dari nyawaku telah lenyap dengan sangat mudah. Sudah sebulan, gibs ini tak terlepas dariku. Aku kembali duduk di dekat jendela yang mempunyai pemandangan yang memuakkan. Sekali lagi, sendiri. Siang ini sangat terik dan membuat ruangan ini bertambah panas. Aku tahu sekarang, mereka hanya menginginkan aku yang kaya, bukan miskin seperti ini. Teman-temanku, mereka pergi setelah keluargaku hancur dan harus berhadapan dengan penagih hutang. Mereka tak pernah melihatku atau menelponku. Selama ini kepura-puraanlah yang selalu mereka tampakkan. Sudah cukup aku meng iba seperti ini. Semuanya akan kututup rapat-rapat. Kenangan itu sudah tak berarti lagi bagiku.
Sudah cukup lama aku duduk di jendela ini. Entahlah, mungkin lima jam. Aku selalu memikirkan mereka. Sayup-sayup terdengar bunyi langkah sepatu dari teras rumah. Siapa yang datang sore ini? Pintu berderak terbuka sangat perlahan. Aku mengira itu adalah orang bank atau lebih tepatnya penagih hutang. Ayah berhutang kepada mereka sangat banyak, sehingga tak sanggup untuk membayarnya. Aku sedikit takut dan ingin segera pergi ke kamar. Setelah pintu terbuka, ada sosok yang tak asing di depanku, ia tersenyum dengan kelembutan yang masih sama. Berdiri dengan tubuh yang tegap. Rambutnya yang lurus hitam legam berbentuk spike. Aku sangat menyukainya. Kulitnya yang kuning dan badan yang menjulang tinggi. Matanya sedikit sipit, beda sekali denganku yang bermata bulat besar. Hidungnya yang mancung membuatku tak bisa mengelak untuk semakin mecintainya.
“Bagaimana keadaanmu?” Dengan sekejap ia telah berada di sampingku.
“Aku sudah semakin membaik, tapi gibs ini masih belum lepas. Kau kemana saja? kenapa tak pernah ke rumahku,” aku memalingkan wajah dan menatap ke luar jendela. Ia diam beberapa saat,”maaf, aku ada urusan kerja di luar kota,” dengan menghela nafas yang berat. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, aku tak tahu itu. Senyumannya yang lembut tadi sudah tak ada lagi. Ada yang aneh dengannya, aku tak tahu apa itu. Sepertinya ia sangat tertekan dan frustasi.
“Kenapa tak mengatakannya, Ryan,” aku menghela nafas merasa sangat cemas kalau ia akan pergi. Aku merasa kalau sebentar lagi ia akan meninggalkanku, seperti Ayah yang pergi entah kemana dan teman-temanku yang mungki sekarang sedang bergelak ria. Ah, buat apa aku memikirkan mereka.
“Aku tak sempat,” kemurungannya itu membuatku semakin tersiksa. Kami saling tatap dan diam untuk beberapa saat. Aku kembali menatap ke halaman kosong itu. Aku tahu kenapa dia begitu, karena malu denganku yang sudah tak punya apa-apa lagi, cacat dan takkan bisa berjalan lagi. Aku sudah mempertimbangkan semuanya dan siap untuk ditinggalkan. Hari sudah semakin gelap dan langit yang tadinya jingga mulai berubah menjadi hitam kelam. Sepertinya bintang takkan muncul, malam ini sama seperti malam sebelumnya, mendung. Lampu telah dihidupkan oleh Ibu dari dapur, beliau tak mau mengganggu pertemuanku dengan Ryan. Aku melihat Ryan yang berbeda sekarang, dia kelihatan tak menikmati keberadaanku dan itu pertanda buruk. Walaupun kami sudah lama sekali terdiam dalam hening, keadaannya masih saja memesona. Mukanya tetap saja bersih, tak berminyak sedikit pun. Wanginya masih tercium olehku, rambutnya sedikit kusut. Kami tetap diam dan tak mau mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa kusadari, air mata telah telah datang tanpa aba-aba. Ryan yang tadinya duduk di sampingku, sekarang berdiri ingin pergi.
“Aku pergi dulu, jaga dirimu.”
“Kau akan kembali? Aku mengharapkanmu datang ke sini. Hanya kaulah satu-satunya yang membuatku tetap bertahan hidup.” Ia hanya diam dan berjalan lambat.
“Aku akan menantimu di sini, di jendela ini,” kataku menatapnya tanpa kedipan. Ia menghentikan langkah lalu melanjutkannya kembali dan hilang di balik pintu cokelat yang sudah termakan rayap. Aku menangis tanpa isakan dan Ibu tak bisa berbuat apa pun untukku. Beliau sudah cukup menderita atas kepergian Ayah dan aku tak mau ia sedih melihatku seperti ini. Malam sudah sangat larut dan aku tidur tanpa memejamkan mata. Hatiku sudah menciut dan tak mau mekar seperti dulu. Drama cintaku sudah berakhir.
Setiap hari aku menunggunya, tapi tak ada tanda kalau ia akan datang. Sekarang aku benar-benar yakin kalau ia takkan datang lagi. Laki-laki yang kucintai telah pergi meninggalkanku, Ayah dan Ryan. Sekarang, aku hanya sendiri, teman-temanku juga sudah tak nampak batang hidungnya. Bayangan itu telah pergi dan hanya tinggal bayanganku sendiri bersama gips yang selalu menemani kakiku tang tak bisa tertolong lagi.
Bagindo, 070608
2 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar







cerpen yang ini ya cha yang diikutin lomba? bagus kok, tapi ceritanya sedih :((
bukan bang, kalau cerpen yang ini gak bagus mana lulus seleksi tuh…. yang ikut lomba dah cha kasih, gak mungkin cha post di sini, bisa2 sebelum terbit langsung kena plagiat….
cerpen buat lomba harus lebih bagus dari ini…