Nenek Tua Pecinta Kucing
Yulisa Farma
Telah Terbit di Koran Singgalang Minggu, 26 Oktober 2008
Setiap pulang sekolah, aku selalu melihat rumah itu. Rumah yang terletak di sudut jalan. Rumah yang terpencil dan jauh dari komplek perumahanku. Ingin sekali untuk mengetuk pintu dan menyapa orang yang ada di rumah itu. Tapi, rasa takutku melebihi keberanianku. Anehnya, tak ada seorang pun yang mempermasalahkan Nenek itu. Sepertinya tak ada yang melihat rumah di sudut jalan itu. Setiap aku melewati rumah itu, aku selalu melihat Nenek tua yang selalu mengelus kucingnya dengan lembut. Rasa ingin tahu membuatku tak sabar untuk berkunjung ke rumah itu. Nenek tua pecinta kucing, itulah julukan yang pantas. Kenapa tidak? Aku sering melihat Nenek itu memeluk kucing dan mengelusnya dengan lembut. Sepertinya kucing itu sangat berarti baginya. Namun, aku hanya dapat melihatnya dari jauh.
Hari ini cuaca agak mendung. Aku memakai sweater tipis dan mengalungi syal merah di leherku. Untuk mewanti-wanti, aku membawa payung kecil, mungkin saja nanti hujan lebat. Aku melewati rumah itu lagi. Kesunyian yang mencekam membuatku sedikit merinding. Angin yang berhembus kencang membuat dedaunan kering terbang jauh seakan menghindar dari rumah tua itu. Keadaan seperti itu lebih membuat bulu kudukku berdiri untuk beberapa menit. Aku terpaku di tempat itu tanpa berkedip. Sudah 10 menit aku di sana, sewaktu hendak pergi, aku melihat Nenek itu lagi. Seperti biasa, Nenek itu mengelus kucingnya yang berada di pangkuannya. Karena rasa takut yang menjalar membuatku lari terbirit-birit ke sekolah. Dan aku tahu hal ini sangat buruk untuk konsentrasi belajarku nanti.
Sudah beberapa hari ini kepalaku pusing, aku tak tahu kenapa. Setiap hendak berjalan, pusing di kepalaku semakin menjadi-jadi. Pulang sekolah, aku langsung berjalan menuju rumah. Entah kenapa kepala ini semakin pusing dan aku tak sanggup berjalan lagi. Semuanya berubah dan aku terjatuh tepat di dedaunan yang kering itu.
Aku membuka mata, menatap langit-langit dinding yang penuh dengan jarring laba-laba. Dimana ini? Ini bukan rumahku, aku tahu itu. Tak mungkin Ibu membiarkan jarring laba-laba numpang di atas langit-langit rumahku. Aku duduk dan mulai melihat di sekitar ruangan. Rumah itu lumayan besar, dindingnya berwarna putih. Di sudut ruangan terdapat kursi goyang, terdapat beberapa perabot antic ayngbelum pernah aku lihat. Tempat tidur yang aku tiduri sedikit empuk, tapi terkesan lama. Parabotan di rumah ini sangat antic dan aku tak pernah melihat benda ini selain di sini. Tempat apa ini?
Aku dikagetkan oleh suara serak yang terdengar di dekat pintu yang terkesan elegan.
“Bagaimana keadaanmu, Nak,” dia mengatakan itu dan itu membuatku tahu siapa dia.
“A… aku baik, Nek,” dia adalah Nenek tua itu dan aku berada di rumah yang selama ini aku takuti.
Nenek itu tersenyum dan mengelus kucing yang ada di pangkuannya. Kucing itu ada tiga ekor, yang satu berwarna hitam dan yang lainnya berwarna kuning keemasan, warna yang aneh. Aku menatap Nenek itu dengan seksama. Wajahnya sangat lembut dan matanya sangat ramah. Ia tersenyum dan berjalan menuju kursi goyang yang tak jauh dari tempat tidur. Nenek itu membelakangiku dan menggoyangkan kursi itu sambil mengelus ketiga kucingnya. Kucing itu berukuran kecil, namun mempunyai badan yang kekar. Kucing itu tertidur di pangkuan si Nenek. Aku tak tahu harus berbuat apa. Kepalaku masih pening, Nenek ini sudah menyelamatkanku.
“Terima kasih, Nek. Kau sudah menyelamatkanku. Kalau tidak, aku akan mati kedinginan karena kehujanan,” aku menatap punggung kursi goyang itu.
“Tak perlu berterima kasih, kita sesama manusia tentu perlu menolong. Lagipula, kau pingsan di depan rumahku,” Nenek itu terus mengelus kucingnya dan menatap ke luar jendela yang berada di dekat tempat tidur. Hujan masih sangat lebat dan aku tak mungkin ke luar dalam keadaan seperti ini.
“Aku sering melihatmu menatap rumahku. Sepertinya kau takut di rumah ini,” Nenek itu melanjutkan pembicaraannya.
Aku bergidik. Ternyata Nenek ini juga sering melihatku bertingkah konyol di luar. Aku kembali menatap langit-langit yang penuh dengan jaring laba-laba itu. Sepertinya di rumah ini tak ada listrik, yang ada hanya lampu sisik yang terletak di atas meja. Nenek itu sangat menyayangi kucing. Tapi kucing itu sangat aneh, warnanya saja beda dengan kucing yang biasa aku lihat. Belum sempat aku bertanya, Nenek itu sudah tahu apa yang ingin aku tanyakan.
“Kau percaya, kalau roh yang mati akan menjelma menjadi seekor kucing?” Nenek itu mengelus rambutnya yang sudah memutih.
“Aku tak tahu. Aku tak bisa percaya juga tak bisa untuk tidak memercayainya,” jawabku.
“Mungkin kau takkan pecaya, aku yakin itu. Tapi, orang dulu mengatakan kalau orang yang sudah mati, maka rohnya akan berada di dalam kucing yang pernah dipeliharanya,” lanjutnya.
“Tiga kucing ini mewakili suami dan kedua anakku.” Aku masih bingung dengan apa yang dikatakan Nenek tua itu. Apa hubungannya roh dengan kucing? Aku tak percaya dengan tahayul seperti itu. Jadinya, aku hanya mendengarkan perkataan si Nenek. Yang aku bingung kenapa kucing itu mewakili suami dan anaknya? Kemana mereka, apa mereka sudah mati?
“Suami dan anakku sudah lama sekali mati, mereka dibunuh oleh orang yang aku tak tahu siapa mereka. Oleh sebab itu, kucing ini akan selalu ada untukku. Hanya mereka keluargaku. Aku tak punya siapa pun,” Aku berdiri dan duduk di depannya. Wajahnya terlihat sangat sedih dan aku sangat iba. Ia tersenyum dengan senyum yang terpaksa. Aku masih menatapnya dan ikut mengelus kucing yang berwarna emas.
“Aku minta maaf sudah membuatmu sedih, aku tak bermaksud,” aku menimpali dan memeluk badannya yang ringkuh itu. Nenek itu tersenyum dan memelukku, badannya sangat dingin dan kulitnya keras. Nenek itu selalu sendiri dan tak ada yang menemaninya. Ia menjalani hidup tanpa keluarga dan aku takkan tahu bagaimana rasanya. Kucing itu terbangun dan mengeong-ngeong meminta makan. Nenek itu beranjak dari kursi goyang dan berjalan ke luar kamar. Aku mengikutinya sampai ke luar kamar. Nenek itu menuju dapur dan memberi makan ketiga kucing.
Aku berdiri di dekat konsen pintu dan menatap kucing yang makan dengan lahapnya. Nenek itu membimbingku dan membawa ke ruang tamu yang mungkin terlalu besar. Kursi yang sangat antik, elegan dan terlihat mewah. Lampu sisik yang lebih terang dari lampu sisik biasanya. Marmer yang lembut dan tak terawat, banyak sekali debu di sini. Masih banyak terlihat jaring laba-laba di sekitar ruangan. Terdapat beberapa lilin di atas meja makan, karpet usang yang sudah lama tak disapu. Rumah ini terlalu besar untuk empat keluarga kecil.
Hujan sudah mulai reda dan aku harus pulang. Langit sudah terlihat gelap, pasti Ibu sangat mencemaskanku. Entah berapa lama aku berada di rumah ini. Rumah yang sangat nyaman dan aku ingin sekali berlama-lama di sini. Nenek itu berbalik melihatku. Ia menatapku lama dan tersenyum lembut.
“Kau sudah mau pulang? Ibumu pasti menghawatirkanmu,” Nenek itu tahu apa yang aku pikirkan.
Kucing itu berlari ke arah Nenek tua itu. Nenek itu duduk di sofa yang mungkin aku tak pantas duduk di sana. Ia kembali mengelus lembut setiap kucingnya. Aku tersenyum sendiri, aku teringat Nenek yang juga sangat sayang dengan kucing. Nenek tua itu sangat baik.
Aku kembali ke kamar dan mengemasi berang-barang yang tertinggal. Aku berjalan menuju ruang tamu, di tengah rungan yang berada dekat dengan perapian kecil, aku melihat beberapa foto. Foto itu terdiri dari empat orang, dua pria dan dua wanita. Pakaiannya terlihat mewah dengan gaun yang sangat indah, si pria memakai jas hitam yang sepertinya terbuat dati wol yang sangat mahal. Ada tiga ekor kucing di foto itu. Kucing yang sama dengan yang kulihat bersama Nenek itu. Aku tahu kalau itu adalah foto keluarga si Nenek tua. Nenek itu terlihat sangat cantik dan menawan, sepertinya keluarga mereka kaya raya.
Aku kembali melanjutkan perjalanan menuju ruang tamu yang super besar itu. Nenek tua itu tak beranjak dari tempat duduknya, ia terus mengelus ketiga kucing. Ah, aku tak ingin meninggalkannya sendiri di rumah ini. Ingin sekali aku membawanya pulang k rumah dan menyuruhnya untuk tinggal di rumahku selama ia menginginkannya. Tapi, aku tahu ia takkan mau meninggalkan rumah ini. Maling akan merampok isi rumahnya. Aku berjanji akan menengoknya setiap hari. Nenek itu menatapku dan kembali tersenyum. Ah, aku sangat senang dengan senyuman itu. Aku membalas senyumannya yang begitu tulus.
“Aku sangat berterima kasih. Aku berjanji akan setiap hari menegokmu dan aku akan membawakan makanan untukmua,” aku menghampirinya dan memeluk tubuh kurus itu.
“Kau tak perlu ke sini lagi. Sekali ini saja sudah cukup. Ingatlah kata-kataku tadi. Kucing adalah hewan yang mulia,” Nenek itu menatapku aneh.
Teryata gelap sekali di luar sana, udara yang dingin membuatku lebih merinding lagi. Aku membuka pintu dan beranjak ke luar rumah. Nenek itu tak pernah beranjak dari tempat duduknya. Ia menatapku nanar dan aku melihat senyum terakhirnya.
Aku berjalan lamban menuju komplek perumahan tempat aku tinggal. Suasana yang mencekam dan daun kering yang beterbangan dimana-mana. Ilalang yang bergoyang-goyang menambah rasa takut dalam diriku. Akhirnya terlihat juga lampu komplek perumahan, aku berlari kecil menuju rumah.
Sampai di rumah, aku melihat Ibu menangis di ruang tamu. Aku membuka pintu dan belari ke arah Ibu.
“Bu, kenapa menangis?” aku bingun atas reaksi Ibu yang tiba-tiba memelukku.
“Kau kemana saja, Preti? Ibu mencemaskanmu. Aku sedikit kaget dan lupa kalau aku sudah menghilang berjam-jam.
“Tadi aku pingsan di tengah jalan dan aku ditolong seorang Nenek tua penyayang kucing dan ia membawaku ke rumahnya yang ada di sudut jalan,” aku mengatakan kejadian itu kepada Ibu.
Ibu terdiam kaku, ada sorot ketakutan di matanya. Ia menatapku lama sekali. Aku bingung kenapasikap Ibu seperti itu.
“Kau tidur dimana tadi?” Ibu mengulang pertanyaannya.
“Aku ditolong Nenek yang rumahnya di sudut jalan yang sepi itu. Memang ada apa, Bu? Ibu kenal?,” aku pun mengulang.
“Tidurlah, kau pasti sangat capek. Besok kau akan tahu apa yang terjadi. Lebih baik hati-hati lagi di sekitar sini. Ibu dengar dari tetangga. Kita sebagai keluarga yang baru menempati daerah ini harus lebih hati-hati lagi,” Ibu pergi ke kamar dan mematikan lampu. Aku masih bingung dan tak memedulikan perkataan Ibu tadi. Aku tak sabar menunggu pagi untuk pergi ke rumah nenek tua pecinta kucing itu.
Esok paginya, aku tak melihat rumah Nenek tua pecinta kucing itu algi.
Tarandam, 19 juli 2008
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar









hah? beneran?
blogwalking..
wah … beruntung sekali ….. hanya dia yang bisa melihat rumah itu …
pesan itu memang harus diingat .. kucing mah mahkluk mulia. kan lucu
bikin gemes juga …..
****** jadi inget cerita pendeknya novelis favorit gue : Stephen King
dengan kumpulan cerpennya : Nightmare and Dreamscapes ******
salam kenal..kunjungannya ditunggu..kalau tidak…..sesuatu akan terjadi…
numpang lewat.. udah lama ga main main kesini
so…sweat walau hati AQU kurang peka baca hal kyak gini ,,,,,,tapi AQU suka kamu berani tuk menulis…..
ihh….ngeri jga,
ntu beneran cerita kmu…?
mgkinkah nenek itu hantu…?
hiii…..pengalaman yang membingungkan sekaligus mengerikan…
judulmu sama
seperti halnya AKU
setiap saat ku lihati halaman yang slalu kunanti
sastraku…
kapankah karyaku akan menyapaku
lewat koran yang slalu kunanti.
DIRIMU,
tolong beri jawabannya
walaupun secuil saja,
buatku semangat akan “kedepan”
Ceritanya bagus… dan sangat teralur jadi enak dibacanya !!
cerita yang bagus,alurnya jelas.tapi agak seram….hik..hik..